Monday, March 3, 2025

Asyiknya berpantun Dengan Kaidah Yang Benar!!!


 Kelas Belajar Menulis Nasional

PGRI
Gelombang ke-32
Pertemuan ke - 18
Tema : Kaidah Pantun
Narasumber : Miftahul Hadi, S. Pd
Moderator : Lely Suryani, S. Pd. SD. 
Senin, 3 Mareti 2025

Beli mukenah ke Tanah Abang
Kainnya kain katun
Mas Mif sedap dipandang
Juga pandai bermain pantun

 _RA_

Waktu yang tak menentu tak menyurutkan sedikitpun semangat yang kian menderu untuk menuntut ilmu. Siang ini dibuka dengan doa KBMN gelombang 32 dimulai. Al Fatihah.... 

Kelas Belajar Menulis Nasional pada pertemuan ke 18 siang ini, dipandu oleh Sang Momod cantik. Beliau adalah bunda Lely. Dengan Bapak Nara sumber Miftahul Hadi  yang selalu menawan dihati ibu-ibu KBMN gelombang 32 yaang baik hati. Cie.. 

Mari kita kenali beliau, klik link berikut ya... 👇
https://s.id/MifProfil
Widiiwww keren bukan?? 

Selalu ada sejarah unik bagi saya. Hehe Masih riyep-riyep salah menerima tantangan. Wkwk... Kunikmati saja proses belajar ini. Alhamdulillah... 

Mari kita simak penjelasan Nara sumber terkait PANTUN
Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

Tuntun (Pampanga): teratur, Tonton (Tagalog): mengucapkan sesuatu dengan susunan yang teratur, Tuntun (Jawa Kuno): benang, Atuntun: teratur, Matuntun: pemimpin, Panton (Bisaya): mendidik, Pantun (Toba); kesopanan atau kehormatan (Hussain, 2019)

Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019)

Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020).

Pantun merujuk kepada sesuatu yang teratur dan lurus, baik secara maujud (konkrit) maupun mujarad (abstrak) serta bertujuan memimpin, mendidik, dan memberikan panduan (Harun Mat Piah dalam Bakar, 2020)

Pantun merujuk kepada sesuatu yang teratur dan lurus, baik secara maujud (konkrit) maupun mujarad (abstrak) serta bertujuan memimpin, mendidik, dan memberikan panduan (Harun Mat Piah dalam Bakar, 2020)

Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020).

Pantun dengan akar kata “TUN” adalah sebagai kiasan atau perumpamaan dengan maksud mengandungi unsur-unsur pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

Kamus Bahasa Melayu Nusantara (2003) menjelaskan bahwa Pantun adalah sejenis peribahasa yang digunakan sebagai sindiran

Beberapa pertunjukan pantun bersifat narasi, misalnya Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggunakan struktur "pantun" untuk menceritakan kisah-kisah sejarah keagamaan atau sejarah lokal dengan iringan genderang.

berbicara kentrung, berikut penggiat kesenian kentrung dari Demak yang terkenal

https://www.youtube.com/watch?v=YStl3VmOvIc

Pada hakikatnya, sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia membentuk pondasi dasar pertunjukan genre campuran yang kompleks, seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatra Barat, yang mencampur antara seni musik, seni tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang spektakuler.

Bapak ibu patut berbangga, mengapa?? karena pantun tidak dikenal di Indonesia saja lho

Negara tetangga sepeti Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand juga mengenal dan mencoba melestarikan pantun

Ini nih yang lebih membanggakan lagi bapak ibu. Pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda secara nasional pada tahun 2014. Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020).

Menurut Suseno (2006) di Tapanuli pantun dikenal dengan nama ende-ende.

Contoh:
Molo mandurung ho dipabu,
Tampul si mardulang-dulang,
Molo malungun ho diahu,
Tatap siru mondang bulan.

Artinya:
Jika tuan mencari paku,
Petiklah daun sidulang-dulang,
Jika tuan rindukan daku,
Pandanglah sang bulan purnama.

Sedangkan di Sunda, pantun dikenal dengan nama paparikan.

Contoh:
Sing getol nginam jajamu,
Ambeh jadi kuat urat,
Sing getol naengan elmu,
Gunana dunya akhirat.

Artinya:
Rajinlah minum jamu,
Agar kuatlah urat,
Rajinlah menuntut ilmu,
Berguna bagi dunia akhirat..

Pada masyarakat Jawa, pantun dikenal dengan sebutan parikan.

Contoh:
Kabeh-kabeh gelung konde,
Kang endi kang gelung Jawa,
Kabeh-kabeh ana kang duwe,
Kang endi sing durung ana.

Artinya:
Semua bergelung konde,
Manakah yang gelung Jawa,
Semua telah ada yang punya,
Mana yang belum dipunya.

Beberapa fungsi pantun

1. Sebagai alat pemelihara bahasa
2. Sebagai  penjaga fungsi kata
3. Menjaga kemampuan alur
    berfikir

Jadi tidak boleh sembarangan ya bapak ibu, harus benar-benar dipikirkan pemilihan kata amupun pesan yang ingin disampaikan

Ciri-ciri pantun

1. Satu bait terdiri atas empat baris
2. Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata
3. Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata
4. Bersajak a-b-a-b
5. Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang
6. Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud

Berikut perbedaan pantun, syair dan gurindam

Berikut contoh syair:

Ke sekolah janganlah malas,
Belajar rajin di dalam kelas,
Jaga sikap janganlah culas,
Agar hati tak jadi keras.


Kalau yang ini adalah contoh gurindam:

1. Jika selalu berdoa berdzikir,
   Ringan melangkah jernih berpikir.

2. Jika rajin zakat sedekah,
    Allah akan tambahkan berkah.

Sedangkan Contoh karmina adalah:

Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Ingin membuat pantun dengan mudah dan cepat?? 

1. Pahami kaidah pantun dengan baik
2. Menguasai perbendaharaan kata




MasyaAllah, ilmu yang sangat bermanfaat, rugi lho jika tidak mau bergabung di KBMN PGRI se- Nusantara. 


Kembang turi kembang melati
Harumnya semerbak mewangi
Wahai mas Mif yang baik hati
Jazakumullah lmunya meresap dihati
_RA_


Riska Agustina
Sidoarjo




5 comments:

Tips Mudah Penulis Dapat Menerbitkan Buku Mayor Bersama PT. Ando Offset Yogyakarta

  Kelas Belajar Menulis Nasional PGRI Gelombang ke-32 Pertemuan ke - 20 Tema : Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yo...