Friday, February 21, 2025

Simak! Tips Menukis dari Hati.


 Kelas Belajar Menulis Nasional

PGRI
Gelombang ke-32
Pertemuan ke - 14
Tema : Ditulis Dengan Hati
Narasumber : Mutmainah, M. Pd. 
Moderator: Widya Arema
Jumat 21 Februari 2025

Tak sengaja kupetik bunga melati
Bunga melati milik pak Waras
Tak terasa malam ini
KBMN sudah pertemuan ke empat belas
 _RA_

Malam sabtu dengan dengan semangat menderu  di KBMN ke-32. Ku rajut ilmu bersama para suhu. 

Tema yang menarik selalu disuguhkan, sehingga sakit tak menjadikan alasan untuk tidak mengikuti kegiatan malam ini. 

"Menulis dari hati". Tema belajar malam ini. 

Sugguh menarik bukan?? 

Mari bersama sang moderator cantik bunda Widya dan narasumber hebat bynda Mutnainah. Kita akan belajar dengan dan dari hati👏

Mari mengenal sang narasumber kita malam ini! 

*MUTMAINAH*

M erengkuhmu dalam batas dimensi tempat dan waktu yang Aksa

U luran harsa dalam balutan rasa keakraban

T inta yang kau tulis menjadi selayar rinai yang terus merindu

M enggaris arunika di ujung pemandangan kota dalam senyum mentari pagi

A ksaramu amerta terpatri halus menelusup lubuk jiwa

I  nsan lembah hati yang tak pernah pupus

N ayanikamu selalu nirmala dalam melengkungkan sendu 

A ndai semilir angin menjadi panhatar rinduku

H irup rapal doa dalam lantunan bait bismillah.

Malang, 21/02/25
 

Beliau merupakan alumni peserta Belajar Menulis PGRI Asuhan Om Jay gelombang 24 (Januari-Maret 2022).


Apa itu Writing by Hearth?

Sejatinya menulis adalah ketrampilan tertinggi setelah membaca dan berbicara. 
Menulis dengan hati artinya menjadikan hati sebagai inspirasi saat menulis. Jadikan hati sebagai sumber untuk mengolah ide dan inspirasi yang disampaikan melalui tulisan. 
Otak dan pikiran hanyalah alat dari proses menulis yang bersumber dari hati tersebut.

Tulisan adalah jiwa, setiap yang berjiwa pasti bisa menulis, tulisan dengan hati akan sampai ke hati



Berikut penjelasan "Tips menulis dengan hati". 

1. Melepaskan emosi. 

Emosi yang dimaksud disini adalah emosi yg positif ya.... 
Tulis apa saja yang kita rasakan, kita amati, dan kita dengarkan. Tulis semuanya apa adanya, tanpa perlu diedit terlebih dahulu. 
Jika kita menulis sambil mengedit tulisan kita tidak akan jadi. 

Saat menulis libatkan emosi kita. Beri warna dan rasa pada tulisan kita. 
Saat kita menuliskan tentang kesedihan gambarkan kesedihan itu. Bagaimana rasanya sedih, tulis saja seperti kita sedang berbicara curhat pada sahabat kita jika kita sedang sedih. 

Saat kita sedang marah sampaikan rasa amarah itu dalam kata kata. Sehingga seolah-olah pembaca merasakan aura kemarahan kita.

2. Libatkan panca indera. 

Tiga sahabat itu mendinginkan ketakutan. Di tengah samudra biru, mereka terombang-ambing di atas kapal yang sudah lubang sana sini. Tangan mereka diikat dengan jaring yang kuat, sementara mulut kelu dalam gigil dingin. 
Dari kejauhan
Sesosok makhluk besar semakin mendekati mereka. 

Makhluk itu sangat besar, tingginya melebihi pohon kelapa. Badannya sebesar tingkat delapan. Surainya mencuat tinggi berwarna keperakan disinari matahari. Entahlahmakhluk apa yang mereka lihat. Mata yang merah menampakkan kemarahan. Makhluk itu menghantamkan ekornya dengan kuat. 
Byuuuurrrr, seketika air laut bergejolak setinggi 30 meter. Baju mereka basah kuyup, rasa dingin bukan masalah terbesar mereka. 
Tapi muncullah ikan itu yang marah. Ikan itu semakin mendekati mereka. Satu ayunan sirip lagi, akan tiba dihadapan mereka.

Ooh bagaimana nasib ketiga sahabat itu selanjutnya??
Naah bagaimana saat bpk/ibu membaca paragraf ini. 
Tentu kita juga merasakan dingin, dan ketakutan seperti ketiga sahabat itu bukan. 
Jadikan tulisan kita memiliki rasa takut, senang, melalui melihat, mendengar, membau. Libatkan semua panca indera.

3. Tulis sesuatu yang kita sukai. 

Bapak ibu pasti pernah merasa jatuh cinta kan? Bagaimana kita menggambarkan orang yang kita sukai. 
Hemmm pasti paket lengkap untuk mendeskripsikannya. 
Mulai dari penampilannya, sikapnya. Bahkan senyumnya pun kita bisa melukisnya dengan jelas. 
Kenapa bisa seperti itu? 
Kuncinya karena  SUKA. 

Jangan menulis sesuatu yang tidak kita sukai. Ibaratnya jika Anda tidak menyukai minum kopi, jangan memaksakan minum kopi. Pasti tidak akan menggambarkan kopi itu secara obyektif bukan? 
Intinya tulis sesuatu yang kita sukai. 
Jangan menulis karena terpaksa. 
Ingat tulisan yang ditulis dengan terpaksa hanya akan berupa huruf rangkaian tanpa nyawa. 
Kosong, bisu dan tak membekas dihati pembaca. 
Menulis adalah soal perasaan. Tidak cukup hanya pengetahuan, seorang penulis harus memiliki pemahaman. Pemahaman dimulai dari memahami diri sendiri baru memahami orang lain. 

Penulis yang punya rasa akan menjadi sensitif dan mampu menangkap banyak hal. Efek ke tulisan, tulisannya akan menjadi lebih dalam dan dapat dibaca oleh pembaca karena menyentuh pembaca. Dengan melibatkan rasa, penulis akan merasakan pengalaman keterlibatan sesuatu yang menggelegak dari dalam dirinya dan hal itu kemudian akan ditangkap oleh pembacanya. Merasa tidak?

Menulis adalah seni. Seni adalah keindahan. Seni adalah kreativitas. Seni juga bisa berarti jalan. Dengan seni, penulis memiliki jalan yang otentik di dalam karya-karyanya yang sulit ditiru oleh orang lain. Jadi hal ini adalah sebuah ciri khas mendalam dari penulis.

4. Jangan Mengharap Pujian. 

Niatkan dalam hati yang pertama kata2 berikut ini. 
UNTUK APA MENULIS KITA? 
Jika kita menulis hanya karena pujian, orientasi kita bukan pada segi manfaat tulisan kita. 
Tapi semata mata karena ingin dipuji. 
Dan saat tulisan kita sepi dari pujian maka kita akan badmood bahkan malas untuk menulis.

5. Siapa yang melakukan. 

Siapa artinya kenali siapa yang akan membaca tulisan kita. 
Jika kita tulisan ingin kita mengena pada remaja maka posisikan diri kita sebagai remaja. Mulai dari gaya bahasa, topik dan hal-hal yang lagi digandrungi remaja. 
Jadikan diri BPK/ibu sebagai pembaca. 

Do artinya pesan apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca. Dengan harapan pembaca akan melakukan apa yang kita tulis dan kita harapkan sesuai tujuan tulisan kita.

6. Baca dan baca

Seorang penulis hendaknya suka membaca. 
Ibarat kendaraan maka membaca adalah bahan bakar seorang penulis. Dengan membaca kita akan kaya akan ide, bahasa dan bahasa menulis.
Dikutip dari Rencanamu.id (24/09/18), hasil dari penelitian Stephen D. Krashen dalam bukunya yang berjudul Writing: Research, Theory, and Application, bahwa ada hubungan antara kegiatan membaca dan menulis. Responden yang merupakan para penulis itu ternyata gemar membaca sejak kecil dan mengaku sudah terbiasa menulis sejak masih sekolah.

Jadi, semakin banyak seseorang yang membaca, wawasan dan pengatahuannya pun akan semakin luas, sehingga memiliki banyak referensi atau ide untuk menulis. Dengan kata lain, setiap kalimat yang dituliskan akan mengalir dengan mudah, karena sudah mempunyai bekal informasi.

7. JUJUR
Mulutmu bisa berbohong tapi tulisanmu tidak

kata orang apa yang tertulis tak mampu berbohong bahwa tulisan adalah isi hati penulis, saat matamu bisa berbohong maka tulisanmu tidak, artinya tulisan kita adalah gambaran dari kita

8. Konsisten. 

Poin yang ke 8 ini sangat mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. 
Ibarat berjalan selalu ada karang yang menghadang
Angin badai menerpa, meruntuhkan kesadaran
Tapi yakinlah itu semua hanya kerikil tajam sandungan
Kan memperkokoh genggaman tangan dalam satu TUJUAN yakni menjadi penulis

Saat tulisan kita memiliki jiwa, maka tulisan itu tidak akan membosankan. Melekat dalam kenangan.

Berikut manfaat menulis dengan hati:
1. Lebih menyentuh pembaca
2. Memiliki nyawa
3Lebih mudah menyusun cerita



Gmbar diatas memancing deretan kata dalam pikiran, betu nggak sih?
 
Sehingga saya sebagai peserta KBMN malam ini terpancing untuk merajut kata menjadi kalimat-kalimat yang tanpa disadari dapat merasuki si pembaca dalam sajian gambar tersebut. 

Saat itu, di sudut teras, terlihat dua sosok kakak beradik. Dengan pakaian subur juga kondisi yang kurang dari kata baik. 

Sang kakak dengan pemikiran tenaga melindungi adik kecilnya dari panasnya sang surya. Dalam peluk dan gendongan si kakaklah bayi tersebut beristirahat. Begitupun sang kakak denga wajah lelahnya sambil memangku adiknya tertidur lelap dengan bersandar di dinding dan beralas kardus. 

Sungguh mulia hati sang kakak. Dalam kondisi apapun tidaklah membuatnya meninggalkan si adik yang tampak lemah ini.

ya, ya.. 
Ssebagai pemula pun, tak ingin melewatkan begitu saja.
Mencoba kemampuan menulis yang minimalis. Hehe

Blanjut juga donk untuk bertanya😊

Assalamualaikum wr.wb🙏
Saya Riska Agustina Sidoarjo
Ijin tanya gih bunda🙏

1. Bagaimana mengukur apakah tulisan kita sudah dapat disentuh pembaca? 
2. Tips selalu semangat berlatih menulis donk bun?? 

Demikian, Terima kasih bunda 🙏

Waalaikum salam dari Riska

1. Cara mengukurnya adalah ketika pembaca bisa ikut merasakan apa yang dirasakan penulis. Menangis karena sedih, tertawa krn kisah bahagia, pun rasa2 yg lainnya.Satu lagi indikatornya Pembaca tersenyum puas seusai menutup halaman terakhir

2. Menulis untuk menunjukkan kita pernah ada. Menulis untuk warisan anak cucu kita. Menulis untuk ladang jariyah kebaikan. Camkan itu di dalam hati saat rasa jenuh mulai melanda

"Jangan menunggu inspirasi untuk menulis, karena menulis dari hati adalah cara untuk menciptakan inspirasi itu sendiri."


 Tenunan kata yang indah penuh makna
Merasuki jiwa yang meronta
Wahai para narasumber idola
Terima kasih atas ilmu membahananya
 _RA_



Riska Agustina
Sidoarjo

6 comments:

Tips Mudah Penulis Dapat Menerbitkan Buku Mayor Bersama PT. Ando Offset Yogyakarta

  Kelas Belajar Menulis Nasional PGRI Gelombang ke-32 Pertemuan ke - 20 Tema : Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yo...